(Diringkas dari kitab Akhlaqul ‘Ulama karya Al Ajurry rahimahullah, halaman 73)
فمن صفته في طلبه للعلم : يطلب العلم بالسهو والغفلة ، وإنما يطلب من العلم ما أسرع إليه هواه . فإن قال : كيف ؟ قلت : ليس مراده في طلب العلم أنه فرض عليه ليتعلم كيف يعبد الله فيما يعبده من أداء فرائضه ، واجتناب محارمه ، إنما مراده في طلبه أن يكثر التعرف أنه من طلاب العلم
Di antara karakter penuntut ilmu yang tercela adalah ia mencari ilmu dalam keadaan lalai dan hanya mencari ilmu yang bisa memenuhi hawa nafsunya. Jika ada yang bertanya, kenapa bisa demikian, maka kita jawab: Tujuannya dalam menuntut ilmu bukanlah karena menganggap hal tersebut wajib yang dengannya ia beribadah kepada Allah, memenuhi kewajiban yang Allah perintahkan dan menjauhi larangan Allah. Akan tetapi ia mencari ilmu supaya ia dikenal termasuk jajaran para penuntut ilmu.
يتفقه للرياء ، ويحاج للمراء ، مناظرته في العلم تكسبه المأثم ، مراده في مناظرته أن يعرف بالبلاغة ، ومراده أن يخطئ مناظره ، إن أصاب مناظره الحق أساءه ذلك
Ia belajar hanya untuk riya’ (pamer), dan berdebat dengan orang lain supaya dikenal ilmunya, dan dianggap mumpuni dalam kepandaian berbicara. Ia ingin lawan debatnya salah. Jika lawan debatnya benar, hal itu membuatnya sedih.
وهو يجور في المحاجة ، يحتج على خطئه ، وهو يعرفه ، ولا يقر به ، خوفا أن يذم على خطئه
Dia senang memaksakan dalam beradu hujjah, menolak bahwa dirinya salah padahal ia tahu namun ia tidak mengakuinya, karena takut ia akan dicela karena kesalahannya.
يرخص في الفتوى لمن أحب ، ويشدد على من لا هوى له فيه
Ia bergampang-gampangan dalam fatwa untuk yang ia senangi, dan bersikap keras terhadap yang tidak dapat memberinya manfaat.
من تعلم منه علما ، فهمته فيه منافع الدنيا
Siapa saja yang mengambil ilmu darinya, maka tujuan utama yang ia harapkan adalah keuntungan duniawi.
وإن كان ممن لا منفعة له فيه للدنيا - وإنما منفعته الآخرة - ثقل عليه
Dan jika tidak didapatinya manfaat duniawi – dan hanya menfaat akhirat – dari yang belajar padanya, maka ia merasa berat atasnya.
يرجو ثواب علم ما لم يعمل به ، ولا يخاف سوء عاقبة المساءلة عن تخلف العمل به
Ia mengharapkan ganjaran atas ilmu yang tidak ia amalkan, dan tidak takut atas akibat buruk dari ilmu yang tidak ia amalkan itu.
ينطق بالحكمة ، فيظن أنه من أهلها ، ولا يخاف عظيم الحجة عليه لتركه استعمالها ، إن علم ازداد مباهاة وتصنعا
Ia mengucapkan kata-kata bijak, lalu ia mengira bahwa ia termasuk golongan orang-orang bijak. Ia tidak takut bahwa itu akan menjadi hujjah baginya jika ia meninggalkan pengamalannya. Semakin ia berilmu, semakin menambah rasa sombongnya dan kepura-puraan alimnya.
، إن كثر العلماء في عصره فذكروا بالعلم أحب أن يذكر معهم ، إن سئل العلماء عن مسألة فلم يسأل هو ، أحب أن يسأل كما سئل غيره وكان أولى به أن يحمد ربه إذ لم يسأل ، وإذ كان غيره قد كفاه
Jika banyak ulama di masanya yang dikenal dengan ilmunya, ia senang dan berharap jika ia disebut sebagai salah seorang di jajaran mereka. Jika seorang ulama ditanya mengenai suatu masalah dan ia tidak ditanya, ia berharap kalau ia juga ditanya sebagaimana yang lain juga ditanya. Padahal lebih utama baginya untuk memuji Allah karena ia tidak ditanya, sedangkan selain dia telah mencukupi.
إن بلغه أن أحدا من العلماء أخطأ ، وأصاب هو ، فرح بخطأ غيره ، وكان حكمه أن يسوءه ذلك
Jika sampai padanya bahwa salah seorang ulama itu salah, dan ia yang benar, maka ia senang dengan kesalahan orang lain, dimana mestinya ia sedih jika saudaranya salah.
إن سئل عما لا يعلم أنف أن يقول : لا أعلم ، حتى يتكلف مالا يسعه في الجواب ، إن علم أن غيره أنفع للمسلمين منه كره حياته ، ولم يرشد الناس إليه
Jika ia ditanya sesuatu yang ia tidak tahu, ia berat untuk berkata “saya tidak tahu”, sehingga ia membebani diri pada sesuatu yang ia tidak bisa jawab. Jika ia mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih memberi manfaat pada kaum muslimin daripada dia, ia membenci kehidupan orang itu, dan tidak mengenalkannya pada manusia.
ثم علم أنه أخطأ أنف أن يرجع عن خطئه ، فيثبت بنصر الخطأ ، لئلا تسقط رتبته عند المخلوقين
Kemudian ia mengetahui bahwa ia salah, namun berat untuk mengoreksi kesalahannya, dan malah menetap pada kesalahannya, karena tidak ingin martabatnya jatuh di depan para makhluq.
قد فتنه حب الدنيا والثناء والشرف والمنزلة عند أهل الدنيا ، يتجمل بالعلم كما تتجمل بالحلة الحسناء للدنيا ، ولا يجمل علمه بالعمل به
Sesungguhnya ujian yang menimpanya adalah kecintaan akan dunia dan pujian, serta kemuliaan dan kehormatan di kalangan manusia. Ia menghiasi dirinya dengan ilmu, sebagaimana wanita cantik berhias dengan baju untuk keduniawian. Dan bukannya menghiasi ilmunya dengan amalan.[selesai kutipan]
Kita mohon ampun kepada Allah dan berlindung pada-Nya atas keburukan amalan kita. Allahul musta’aan.
Magelang, 20 Januari 2014
Ristiyan Ragil P
____
Sumber: https://www.facebook.com/WebDanBlogAhlussunnah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar