Nasihat dikala Berkurangnya Semangat dalam Belajar

. . Tidak ada komentar:


~Sebuah hadits yang didalamnya terdapat pokok agama yang indah, pijakan kehidupan yang sewajibnya dimiliki oleh setiap muslim karena banyaknya manfaat didalamnya.


~ Al Hafizh Ibnu Rojab Al Hanbaly rohimahulloh menyendirikan dalam menjelaskannya dalam sebuah buku untuk menerangkan kandungan hadits ini.


Dari Katsir bin Qais radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ketika aku sedang duduk disebelah Abu Darda’ di Masjid Damaskus. Tiba-tiba datang seorang laki-laki kepadanya. Lalu laki – laki itu berkata, “Wahai Abu Darda’, aku datang kepada mu dari kota Madinah untuk keperluan sebuah hadits yang sampai kepada ku bahwa engkau pernah meriwayatkan nya dari Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Abu Darda’ berkata, “Apakah kamu datang (sekalian) untuk berdagang?”. Laki-laki itu menjawab, “Tidak”. Lalu, Abu Darda’ berkata lagi, “Apakah kamu datang (sekalian) untuk keperluan selain itu?” Dia (laki-laki itu) menjawab, “Tidak”.

Abu Darda’ pun berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Alloh akan memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridho atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam lautan. Sesungguhnya keutamaan seorang ‘alim (ulama) dibandingkan seorang ‘abid (ahli ibadah), seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ‘Ulama adalah pewaris para Nabi. Dan Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham. Tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah mengambil bagian yang banyak.”


[Hadits shohih, diriwayatkan oleh Abu Dawud, No. 3641 ; At-Tirmidzi, No. 2682 ; Ibnu Majah, No. 223, Ahmad, V/196 ; Ad-Darimi, I/98 ; Ibnu Hibban 88 – Al-Ihsan dan 80 – Al-Mawarid, Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/275-276, No. 129), Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi, I/174 ,No. 173, dan Ath-Thohawi dalam Musykilul Atsar, I/429, dari Abu Darda’ radhiyallahu’anhu]



~Hadits diatas menjelaskan tentang warisan yang banyak dilalaikan oleh manusia. Ibnu Rojab memaparkan kandungan hadits ini satu persatu, walaupun tidak semua kandungan beliau singgung dan hanya pokok-pokok pembahasan beliau paparkan.

~Pada awal pembahasan  :Termasuk kebiasaan para salaf memiliki semangat yang kuat dalam mempelajari agama dan menjemput kebaikan hingga salah seorang diantara mereka melakukan perjalanan yang sangat jauh ketika telah sampai satu hadits kepada mreka. Para 'ulama untuk mendapatkan satu hadits saja mereka rela melakukan perjalanan jauh, Berbeda dengan masa sekarang dimana Alloh mudahkan perjalanan yang jauh menjadi pendek, tetapi bersamaan dengan berbagai kemudahan tersebut, jarang terlihat adaSEMANGAT ditengah manusia, seperti semangatnya para ‘ulama di masa dahulu.

A. BEBERAPA CONTOH DARI SEMANGATNYA PARA ‘ULAMA KITA DAHULU DALAM MENEMPUH PERJALANAN MENUNTUT ILMU

-Abu Ayub Al Anshori rodhiyallohu ‘anhu  berjalan dari Madina menuju Mesir untuk bertemu sahabat karena satu hadits yang diceritakan oleh sahabatnya ;

-Jabir bin ‘Abdillah Al Anshori mendatangi ‘Abdulloh bin Unais. Padahal Jabir bin ‘Abdillah adalah periwayat hadits yang paling banyak (urutan ke-6). Imam As Suyuthi dalam menyebutkan 7 sahabat periwayat hadits terbanyak, yaitu Abu Hurairoh, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik, Ibnu ‘Abbas, Abu Said Al Khudry, Jabir bin ‘Abdillah, ‘dan‘Aisyah rodhiyallohu ‘anhuma ;

-Ada yang untuk mendapatkan satu hadits saja, mereka  mencari hadits dari orang yang kedudukannya berada dibawah mereka, tetapi pada akhirnya tidak dia dapatkan sebagaimana kisahnya Syu’bah Ibnul Hajjaj rohimahulloh atau selainnya. Dikisahkan bahwa Beliau melakukan perjalanan ke suatu negri untuk menjumpai Fulan karena mendengar bahwa si Fulan menyampaikan hadits tersebut dan Beliau  ingin mendengarnya langsung. Begitu didatangi si Fulan, ternyata si Fulan mendengar hadits tersebut dari orang lain. Maka, Beliu pun pergi mendatangi orang tersebut. Sampai pada akhirnya, ternyata hadits tersebut tidak dia dapatkan ;

-Kisah Nabi Musa menjumpai Nabi Khidir ‘alaihimussalaam yang diterangkan  dalam QS. Al Kahfy. Nabi Musa adalah ulul azmi dan Beliau lebih afdhol dari sisi ulul azmi, tetapi Nabi Khidir diberikan oleh Alloh ilmu yang tidak diketahui oleh Nabi Musa. Tatkala bertemu dengan Nabi Khidir, Nabi Musa berkata, ”Bolehkah saya ikut kepadamu sehingga saya mengetahui ilmu yang telah Alloh ajarkan kepadamu?” Pelajaran adab yang bisa kita ambil dari sini adalah Nabi Musa ketika berjumpa dengan Nabi Khidir, beliau tidak langsung meminta ilmu, tetapi beliau mengajukan  permohonan pertemanan dahulu dengan mengikuti Nabi Khidir agar Beliau mendapatkan ilmu tersebut.

-Berkata Abdulloh Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu“Demi Alloh, tiada yang berhak diibadahi selain DIA. Tidak ada 1 surah pun, kecuali aku mengetahui dimana diturunkannya. Tidak ada 1 pun ayat dari Al Qur’an, kecuali aku mengetahui ayat ini diturunkan dalam kejadian apa. Andaikata aku mengetahui  ada yang lebih berilmu mengenai  Al Qur’an dan dapat aku jumpai dengan menunggangi unta, maka aku pasti akan melakukan perjalanan untuk menjumpainya.”

-Dari Abu Darda’ bahwa Masruq bin al-Ajda’ (imam dari kalangan tabi’in) berjalan dari Kufah ke Bashroh untuk menjumpai seseorang untuk bertanya sebuah ayat dari Al-Qur’an. Maka, seseorang memberitahu kepada Masruq bahwa yg menjelaskan ayat tersebut adalah penduduk syam. Lalu Masruq pergi ke Syam, kembali lagi ke Kufah, lalu beliau melanjutkan perjalana mencari orang tersebut ke Syam

-Pada masa Abu Darda’, ada seorang laki-laki dari Kufah melakukan perjalanan menuju Syam untuk bertanya tentang sebuah pertanyaan perihal bagaimana kedudukan sumpah yang telah ia ucapkan. Para ‘ulama ketika ada satu saja masalah fiqih yang mereka tidak mengetahui jawabannya, mereka melakukan perjalanan. Kuffah itu berada di Irak, sedangkan Syam berada di wilayah Yordania.

-Sa'id bin Jubair Al-Asadi Al-Kufi  berjalan dari Kufah menuju Makkah untuk bertanya kepada Ibnu ‘Abbas  berkaitan dengan tafsir sebuah ayat.

-Al Hasan Al Bashri berjalan dari Bashroh menuju Kufah menjumpai Ka’ab bin ‘Ujroh Al Anshori untuk bertanya tentang hadits Ka’ab dalam permasalahan haji perihal fidyah yang harus dibayar oleh orang yang melakukan pelanggaran haji.

-Ada seorang laki-laki yang sumpahnya tersebut susah bagi Ahli Fiqih untuk  menjawab kedudukan sumpahnya. Lalu, Ahli Fiqih ini menyuruh laki-laki tersebut  mendatangi fulan di negerinya. Laki-laki tersebut berkata bahwa negri itu terlalu jauh untuk dia datangi. Maka, ‘ulama tersebut pun berkata,

“Sesungguhnya negeri itu dekat bagi orang yang memiliki perhatian terhadap agamanya.”/

Sumber: https://www.facebook.com/WebDanBlogAhlussunnah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

# JADWAL KAJIAN RUTIN

# SELASA
Aqidah
Ust Dr. Sofyan Baswedan, MA
Kitab Tsalatsatul Ushul
Masjid At Tin, Depan UNS

Aqidah
Ust AbdulFattah
Kitab Ushulul Iman
Masjid Sabilillah Selatan UNS

# KAMIS
Tahsin Al Qur-an
Ust Abdullah (PP Bukhori)
Masjid al Furqon Timur UNS

# JUM'AT
Fiqh Ibadah
Ust Lilik
Kitab Mulakhosh Fiqhiy
Masjid at Tin, Depan UNS

# AHAD ke-4
Ust Abu 'Izzi
Kitab Ishlahul Qulub
Masjid al-Furqon, Timur UNS

Info Kajian Solo

Download Kajian – KajianSolo.Com

Entri yang Diunggulkan

MP3 Rekaman - Kajian Ust Abu Izzi - Memperbaiki Hati 01-26 (sampai November 2016) Jebres, Surakarta

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إل...