Kalau kita hidup di zaman imam al bukhari, kira-kira kita termasuk perawi yang mana; dhaif, dhaif jiddan, matruk, majhul, kadzab atau yg lain?
Perbedaan ilmu dan amal kita dengan ulama salaf sangat jauh, walaupun dulu serba kekurangan fasilitas, tapi semangat mencari ilmu sangat tinggi. berhari-hari bahkan berbulan-bulan melakukan perjalanan dengan jalan kaki melewati gurun hanya untuk mencari satu hadits rasulullah. meskipun begitu, keberkahan ilmu mereka sangat nampak. Allah menjaga agama Islam melalui mereka. hingga kita sekarang bisa mendapatkan ilmu dan menjalankan syari'at melalui riwayat-riwayat mereka.
Sedangkan kita yang hidup sekarang, fasilitas serba mudah, ikut kajian tinggal starter motor/mobil. bagi yang berhalangan bisa streaming, gak bisa streaming masih bisa donlod, dsb. kitab2 karya ulama berjilid2 mudah didapat. tapi semangat dan himmah yang kurang. semakin banyak fasilitas justru rasa malas semakin besar.
Sekarang pemuda yg sibuk organisasi, sibuk seminar, motivasi2 itu sudah terlalu mainstream dan itu pun orientasinya dunia.
Kalau ada pemuda yang sibuk hadir kajian, menghafal qur'an hadits, matan itu baru anti mainstream, out of the box.. pemuda harapan pemudi (eh, bangsa). tapi jangan dikira yang dibahas hanya perkara akhirat, dunia juga dibahas, seperti fiqh, mu'amalah, adab, bahkan adab sebagai warga negara yang baik juga diajarkan tapi tetap orientasinya akhirat. bagi yg mau memahami.
btw, kembali lagi.. kalo kita jadi perawi kira2 di tingkatan mana? itulah kualitas ilmu kita (saya).
Sumber: al-Akh Rizky Tulus dengan beberapa editan penulisan hafizhahullaah https://www.facebook.com/rizky.tulus.5?fref=ts

Tidak ada komentar:
Posting Komentar