بسم الله الرحمن الرحيم
حب الظهور يقطع الظهور
"Cinta ketinggian akan mematahkan punggung." (Al-Imam Al-Albani)
Mereka yang cinta akan popularitas sesungguhnya mereka sedang membinasakan diri sendiri. Dunia bukanlah tempat untuk mencari ketenaran dan akhirat bukanlah tempat bagi mereka yang memiliki sifat ingin terkenal.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang sifat pencari surga,
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Itulah negeri akhirat, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa."(QS. Al-Qashash: 83)
Di sini saya bukan membahas masalah popularitas dalam arti menjadi artis, penyanyi, atau pada perkara-perkara dunia yang di dalamnya terdapat berbagai hal yang melanggar syari'at, karena hal tersebut sudah jelas perkaranya. Akan tetapi lebih kepada amalan kebaikan tapi dia niatkan karena mencari ketenaran dan popularitas, ingin dikenal dan diakui.
Semisal seorang pemuda yang aktif mengikuti kajian atau aktif dalam lembaga dakwah kampus karena ingin diakui sebagai aktivis dakwah. Maka dia rela mencurahkan waktu dan pikirannya mengikuti kegiatan-kegiatan islami supaya dia dikenal sebagai aktivis dakwah, merasa bangga ketika teman-temannya menyanjungnya. Atau seorang yang aktif menulis hingga akhirnya menjadi penulis yang dikenal, hingga dia mengisi seminar dan ceramah di mana-mana, dia pun merasa bangga atas apa yang telah ia raih.
Saudaraku fillah -baarakallaahu fiykum- surga terlalu mulia bila kita beramal dengan niat seperti itu. Sungguh telah sering kita mendengar kisah tiga orang yang beramal dengan amalan akhirat ternyata Allah lemparkan mereka ke dalam neraka. Itu semua karena mereka ingin dikenal dan diakui [1].
Di satu sisi dia menginginkan supaya aib-aib dan keburukannya tidak diketahui oleh seorang pun, maka dia pun berusaha untuk menutupinya. Di sisi lain dia bersemangat menampakkan kebaikan-kebaikannya supaya diketahui oleh orang lain dan menginginkan pujian darinya. Itulah sifat orang yang mencari popularitas di antara manusia. Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah,
Di sini saya bukan membahas masalah popularitas dalam arti menjadi artis, penyanyi, atau pada perkara-perkara dunia yang di dalamnya terdapat berbagai hal yang melanggar syari'at, karena hal tersebut sudah jelas perkaranya. Akan tetapi lebih kepada amalan kebaikan tapi dia niatkan karena mencari ketenaran dan popularitas, ingin dikenal dan diakui.
Semisal seorang pemuda yang aktif mengikuti kajian atau aktif dalam lembaga dakwah kampus karena ingin diakui sebagai aktivis dakwah. Maka dia rela mencurahkan waktu dan pikirannya mengikuti kegiatan-kegiatan islami supaya dia dikenal sebagai aktivis dakwah, merasa bangga ketika teman-temannya menyanjungnya. Atau seorang yang aktif menulis hingga akhirnya menjadi penulis yang dikenal, hingga dia mengisi seminar dan ceramah di mana-mana, dia pun merasa bangga atas apa yang telah ia raih.
Saudaraku fillah -baarakallaahu fiykum- surga terlalu mulia bila kita beramal dengan niat seperti itu. Sungguh telah sering kita mendengar kisah tiga orang yang beramal dengan amalan akhirat ternyata Allah lemparkan mereka ke dalam neraka. Itu semua karena mereka ingin dikenal dan diakui [1].
Di satu sisi dia menginginkan supaya aib-aib dan keburukannya tidak diketahui oleh seorang pun, maka dia pun berusaha untuk menutupinya. Di sisi lain dia bersemangat menampakkan kebaikan-kebaikannya supaya diketahui oleh orang lain dan menginginkan pujian darinya. Itulah sifat orang yang mencari popularitas di antara manusia. Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah,
أخف حسنتك كما تخفي سيئتك ولا تكونن معجبا بعملك فلا تدري أشقي أنت أم سعيد
"Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu. Janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, karena engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)."[2]
Inilah kisah-kisah para ulama salafush-shalih, mereka berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, tidak membutuhkan penilaian manusia atasnya, tidak pula mencari ketenaran karenanya. Mereka sangat takut dengan yang namanya popularitas bahkan menganggapnya sebagai ujian yang sangat berat.
'Ali bin Al-Husain bin 'Ali bin Abi Thalib rahimahullah, beliau biasa memikul karung berisi roti setiap malam hari dan membagi-bagikannya ke rumah-rumah secara sembunyi-sembunyi. Beliau pernah berkata,
إن صدقة السر تطفئ غضب الرب عز وجل
"Sesungguhnya sedekah secara sembunyi-sembunyi akan meredam kemaraham Rabb 'Azza wa Jalla."
Dari Syaibah bin Nu'man,
كان علي بن الحسين يبخل ، فلما مات وجدوه يقوت مائة أهل بيت بالمدينة
"Semasa hidup 'Ali bin Al-Husain dikenal sebagai orang yang bakhil. Tapi ketika beliau sudah meninggal, orang-orang baru tahu kalau ia telah menanggung makan seratus keluarga di Madinah."
Dari Muhammad bin Ishaq,
كان ناس من أهل المدينة يعيشون لا يدرون من أين كان معاشهم ، فلما مات علي بن الحسين فقدوا ما كانوا يؤتون به في الليل
"Dahulu penduduk Madinah hidup dan tidak tahu dari mana mereka mendapatkan jatah penghidupan. Ketika 'Ali bin Al-Husain meninggal dunia, mereka kehilangan apa yang biasanya mereka terima di malam hari."
Dari Amru bin Tsabit,
لما مات علي بن الحسين فغسلوه جعلوا ينظرون إلى آثار سواد بظهره ، فقالوا : ما هذا ؟ فقيل : كان يحمل جرب الدقيق ليلا على ظهره يعطيه فقراء أهل المدينة
"Ketika 'Ali bin Al-Husain meninggal dunia, orang-orang memandikannya dan melihat ada bekas kehitam-hitaman di punggungnya. Mereka bertanya-tanya, 'Bekas apakah ini?' Maka ada sebagian yang menjawab, 'Itu bekas dia memikul karung gandum yang ia pikul di malam hari untuk diberikan kepada orang-orang fakir Madinah."[3]
Al-A'masy berkata,
بكى حذيفة في صلاته ، فلما فرغ ، التفت ، فإذا رجل خلفه فقال : لا تعلمن بهذا أحدا
"Hudzaifah menangis di dalam shalatnya. Setelah selesai maka beliau berbalik, ternyata ada orang di belakangnya. Maka beliau pun berkata kepada orang tersebut, 'Jangan kamu beritahukan hal ini kepada siapapun.'"[4]
Dari Hamad bin Zaid,
كان أيوب في مجلس، فجاءته عبرة، فجعل يمتخط ويقول: ما أشد الزكام
"Ayyub (As-Sikhtiyani) dalam sebuah majelis ketika menjumpai ibrah (hikmah), maka ia langsung membuang ingus dan berkata, 'Alangkah beratnya flu ini.'"[5]
Beliau adalah orang yang berhati lembut lagi mudah menangis. Beliau melakukannya karena tidak ingin tangisannya diketahui orang lain sehingga bukan lagi menjadi tangisan karena Allah lagi. Apabila salah seorang ulama tabi’in tidak mampu berpura-pura sakit (flu) untuk merahasiakan air matanya, ia pun segera berdiri karena khawatir bila air matanya diketahui banyak orang.
Al-Hasan Al-Bashri berkata,
إن كان الرجل ليجلس المجلس فتجيئه عبرته فيردها، فإذا خشي أن تسبقه قام
"Saat seseorang duduk di suatu majelis. Jika air matanya keluar, ia menahannya. Jika ia khawatir air matanya tidak dapat dibendung, ia pun berdiri."[6]
Ayyub As-Sikhtiyani pun membenci ketenaran. Beliau berkata,
ذُكِرتُ ولا أحب أن أُذْكَر
"Aku menjadi terkenal, padahal aku tidak ingin disebut-sebut."
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,
"Aku berharap seandainya aku hanyalah orang biasa dari penduduk Makkah."
Al-Imam Ahmad berkata kepada anaknya ketika beliau menjadi terkenal dan namanya disebut-sebut,
"Aku berharap bahwa ayahmu tidak ada hubungannya dengan hal itu. Namun aku telah diuji dengan ketenaran."[7]
Para salaf bukanlah orang-orang yang suka pamer dan membanggakan diri. Ibrahim An-Nakha'i berkata,
"Sesungguhnya mereka (para salaf) dahulu apabila sedang berkumpul, mereka tidak suka bila seorang (di antara mereka) harus mengisahkan cerita terbaik yang dia alami atau hal-hal terindah yang ada pada diri mereka."[8]
Seseorang berkata kepada Al-Imam Ahmad,
"Jazaakallaahu khairan atas perjuangan Islam anda."
Maka wajah beliau pun menjadi muram dan berkata,
"Bahkan Allah-lah yang memberi kebaikan Islam kepadaku. Siapa aku? Apalah aku ini?"[9]
Ayyub As-Sikhtiyani berkata,
"Seorang hamba sama sekali belumlah jujur bila keinginannya hanya untuk mencari ketenaran."[10]
Ibnul Mubarak berkata,
"Sufyan Ats-Tsauri pernah menulis surat kepadaku, 'Hati-hatilah dengan ketenaran.'[11]
"Menjauhlah engkau dari manusia sebagaimana engkau menjauh dari singa."[12]
Maksudnya, agar menjauh dan tidak perlu mencari perhatian manusia dalam beramal shalih.
Al-Imam Ahmad berkata,
"Beruntunglah orang yang Allah buat ia tidak tenar."
"Aku lebih senang apabila berada pada suatu tempat yang tidak ada siapa-siapa."[13]
Dzun Nuun Al-Mishri berkata,
"Berkata sebagian ulama, 'Tidaklah Allah memberikan keikhlasan pada seorang hamba kecuali ia akan suka berada di penjara bawah tanah sehingga tidak dikenal siapa-siapa."[14]
Al-Fudhail bin 'Iyadh berkata,
"Semoga Allah merahmati seorang hamba yang tidak ingin dirinya tenar/dikenal."[15]
Bisyr bin Al-Harits berkata,
"Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin dirinya tenar kecuali berangsur-angsur agamanya akan hilang."
"Tidaklah bertakwa kepada Allah orang yang mencari ketenaran."
"Orang yang tidak mendapatkan kelezatan di akhirat adalah orang yang ingin dikenal oleh manusia."[16]
Ibrahim bin Adham berkata,
"Tidaklah bertakwa pada Allah orang yang ingin disebut-sebut kebaikannya oleh orang-orang."[17]
Saudaraku fillah -baarakallaahu fiykum-, Islam itu mudah. Tidaklah kita dibebani sesuatu yang kita tidak bisa menanggungnya. Ketika seseorang menyibukkan diri dalam berdakwah sedangkan dia belum memiliki bekal ilmu yang cukup akan tetapi dia memaksakannya, maka ini merupakan sebuah musibah yang banyak terjadi di sekitar kita apalagi jika melakukannya karena ingin diakui.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,
وددتُ لو كنتُ في شعب من شعاب مكة
"Aku berharap seandainya aku hanyalah orang biasa dari penduduk Makkah."
Al-Imam Ahmad berkata kepada anaknya ketika beliau menjadi terkenal dan namanya disebut-sebut,
وددتُ لو لم يُنْسَبْ لأبيك من ذلك شيء، ولكني ابتليت بالشهرة
"Aku berharap bahwa ayahmu tidak ada hubungannya dengan hal itu. Namun aku telah diuji dengan ketenaran."[7]
Para salaf bukanlah orang-orang yang suka pamer dan membanggakan diri. Ibrahim An-Nakha'i berkata,
كانوا يكرهون إذا اجتمعوا أن يخرج الرجل أحسن حديثه أو أحسن ما عنده
"Sesungguhnya mereka (para salaf) dahulu apabila sedang berkumpul, mereka tidak suka bila seorang (di antara mereka) harus mengisahkan cerita terbaik yang dia alami atau hal-hal terindah yang ada pada diri mereka."[8]
Seseorang berkata kepada Al-Imam Ahmad,
جزاك الله عن الإسلام خيراً
"Jazaakallaahu khairan atas perjuangan Islam anda."
Maka wajah beliau pun menjadi muram dan berkata,
بل جزى الله الإسلام عني خيراً، مَنْ أنا ؟ وما أنا ؟
"Bahkan Allah-lah yang memberi kebaikan Islam kepadaku. Siapa aku? Apalah aku ini?"[9]
Ayyub As-Sikhtiyani berkata,
ما صدق عبد قط فأحب الشهرة
"Seorang hamba sama sekali belumlah jujur bila keinginannya hanya untuk mencari ketenaran."[10]
Ibnul Mubarak berkata,
كتب إليّ سفيان الثوري : بُثَّ، واحذر الشهرة
"Sufyan Ats-Tsauri pernah menulis surat kepadaku, 'Hati-hatilah dengan ketenaran.'[11]
فر من الناس كما تفر من الأسد
"Menjauhlah engkau dari manusia sebagaimana engkau menjauh dari singa."[12]
Maksudnya, agar menjauh dan tidak perlu mencari perhatian manusia dalam beramal shalih.
Al-Imam Ahmad berkata,
طوبى لمن أخملَ الله ذكره
"Beruntunglah orang yang Allah buat ia tidak tenar."
أشتهي مكانا لا يكون فيه أحد من الناس
"Aku lebih senang apabila berada pada suatu tempat yang tidak ada siapa-siapa."[13]
Dzun Nuun Al-Mishri berkata,
قال بعض العلماء ; ما إخلص العبد لله إلا أحب أن يكون في حب ، لا يعرف
"Berkata sebagian ulama, 'Tidaklah Allah memberikan keikhlasan pada seorang hamba kecuali ia akan suka berada di penjara bawah tanah sehingga tidak dikenal siapa-siapa."[14]
Al-Fudhail bin 'Iyadh berkata,
رحم الله عبداً أخمل ذكره
"Semoga Allah merahmati seorang hamba yang tidak ingin dirinya tenar/dikenal."[15]
Bisyr bin Al-Harits berkata,
لا أعلم رجلا أحب أن يعرف إلا ذهب دينه فافتضح
"Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin dirinya tenar kecuali berangsur-angsur agamanya akan hilang."
ما اتقى الله من أحب الشهرة
"Tidaklah bertakwa kepada Allah orang yang mencari ketenaran."
لا يجد حلاوة الآخرة رجل يُحبُ أن يَعرفهُ الناس
"Orang yang tidak mendapatkan kelezatan di akhirat adalah orang yang ingin dikenal oleh manusia."[16]
Ibrahim bin Adham berkata,
ما اتقى اللهَ من أحبَّ أن يذكره الناس بخير
"Tidaklah bertakwa pada Allah orang yang ingin disebut-sebut kebaikannya oleh orang-orang."[17]
Saudaraku fillah -baarakallaahu fiykum-, Islam itu mudah. Tidaklah kita dibebani sesuatu yang kita tidak bisa menanggungnya. Ketika seseorang menyibukkan diri dalam berdakwah sedangkan dia belum memiliki bekal ilmu yang cukup akan tetapi dia memaksakannya, maka ini merupakan sebuah musibah yang banyak terjadi di sekitar kita apalagi jika melakukannya karena ingin diakui.
Sebagaimana ini banyak terjadi oleh orang-orang yang saya kenal, mereka terburu-buru ingin mengisi sebuah halaqah ilmu, hanya berbekal buku panduan mereka pun mendadak menjadi murabbi'. Tidak punya bekal ilmu yang cukup dan mereka pun tidak paham apa yang mereka bicarakan. Jadilah halaqah hanya sekedar formalitas yang isinya hanya qila wa qola ataupun hanya sebatas majelis curhat tanpa membahas ilmu sama sekali. Saat saya hadir di majelisnya, saya bertanya kepadanya, "Seperti apa murabbi' itu?" Maka dia pun menjawab, "Ya saya ini murabbi'." Teman di samping saya menambahkan, "Dia ini yang namanya murabbi'." Ini menjadi sesuatu yang sangat disayangkan.
Asy-Syaikh Abdurrazaq Al-Badr berkata,
وإن كان الرجل ليكون جاهلًا جالسًا مع القوم فيتكلم بلا علم وما به من رغبة إلا أن يشتهر
"Apabila ada seorang yang tidak berilmu lalu bermajelis dan berbicara kepada suatu kaum tanpa disertai ilmu, tidaklah dia memiliki keinginan apa pun kecuali ingin menjadi tenar/dikenal."[18]
Seseorang penceramah mengeluh kepada Al-Imam Muhammad bin Wasi',
"Kenapa aku melihat hati manusia tidak khusyu', tidak menangis, dan sulit bergetar dengan nasihat?"
Maka beliau pun menjawab,
"Wahai Fulan, aku melihat mereka dalam keadaan demikian tidak lain disebabkan karena dirimu sendiri. Sesungguhnya nasihat jika keluarnya ikhlas dari hati maka akan mudah masuk ke dalam hati (orang yang mendengarnya)."[19]
Sesungguhnya keselamatan adalah dengan mengikuti jalannya para salafush-shalih, generasi terbaik yang Allah muliakan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Begitu banyak lembaran-lembaran hikmah berisi coretan tinta para ulama yang merekam jejak perjalanan hidup mereka. Begitu lurus aqidah mereka, begitu indah pribadi mereka, dan begitu mulia hati mereka. Mereka tidaklah menginginkan ketinggian di atas muka bumi.
Ditanyakan kepada Hamdun bin Ahmad Al-Qashshar,
"Mengapa ucapan para salaf lebih bermanfaat dari ucapan kita?"
Maka beliau menjawab,
"Karena mereka berbicara demi kemuliaan Islam, keselamatan jiwa, dan demi menggapai ridha Ar-Rahman. Sedangkan kita berbicara demi kemuliaan diri sendiri, mencari dunia, dan mencari ridha makhluk."[20]
Maka bersemangatlah wahai pemilik hati untuk mempelajari dan mengikuti kehidupan yang mereka lalui, niscaya kita akan mereguk lezatnya mata air di tengah keringnya kehidupan yang kita jalani.
Wa billahit taufiq.
Surakarta,
19 Oktober 2014
Rizky Tulus
Catatan kaki:
[1] Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
Seseorang penceramah mengeluh kepada Al-Imam Muhammad bin Wasi',
مالي أرى القلوب لا تخشع ، والعيون لا تدمع ، والجلود لا تقشعر ؟
"Kenapa aku melihat hati manusia tidak khusyu', tidak menangis, dan sulit bergetar dengan nasihat?"
Maka beliau pun menjawab,
يا فلان ما أرى القوم أتوا إلا من قبلك ، إن الذكر إذا خرج من القلب وقع على القلب.
"Wahai Fulan, aku melihat mereka dalam keadaan demikian tidak lain disebabkan karena dirimu sendiri. Sesungguhnya nasihat jika keluarnya ikhlas dari hati maka akan mudah masuk ke dalam hati (orang yang mendengarnya)."[19]
Sesungguhnya keselamatan adalah dengan mengikuti jalannya para salafush-shalih, generasi terbaik yang Allah muliakan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Begitu banyak lembaran-lembaran hikmah berisi coretan tinta para ulama yang merekam jejak perjalanan hidup mereka. Begitu lurus aqidah mereka, begitu indah pribadi mereka, dan begitu mulia hati mereka. Mereka tidaklah menginginkan ketinggian di atas muka bumi.
Ditanyakan kepada Hamdun bin Ahmad Al-Qashshar,
ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا ؟
"Mengapa ucapan para salaf lebih bermanfaat dari ucapan kita?"
Maka beliau menjawab,
لأنهم تكلموا لعز الإسلام ونجاة النفوس ورضاء الرحمن ، ونحن نتكلم لعز النفس وطلب الدنيا وقبول الخلق
"Karena mereka berbicara demi kemuliaan Islam, keselamatan jiwa, dan demi menggapai ridha Ar-Rahman. Sedangkan kita berbicara demi kemuliaan diri sendiri, mencari dunia, dan mencari ridha makhluk."[20]
Maka bersemangatlah wahai pemilik hati untuk mempelajari dan mengikuti kehidupan yang mereka lalui, niscaya kita akan mereguk lezatnya mata air di tengah keringnya kehidupan yang kita jalani.
اللهم اجعل عملي كله صالحا واجعله لوجهك خالصا ولا تجعل لأحد فيه شيئا
"Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amalan yang shalih, jadikanlah amalanku ikhlas karena mengharap Wajah-Mu, dan janganlah Engkau jadikan di dalam amalku bagian untuk siapapun (selain Engkau)." ('Umar Ibnul Khaththab)
Wa billahit taufiq.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Surakarta,
19 Oktober 2014
Rizky Tulus
[1] Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إن أول الناس يقضي يوم القيامة عليه رجل استشهد فأتى به فعرفه نعمته فعرفها قال فما علمت فيها قال قاتلت فيك حتى استشهدت قال كذبت ولكنك قاتلت لأن يقال جريء فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقى في النار ورجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن فأتى به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها قال تعلمت العلم وعلمته وقرأت فيك القرآن قال كذبت ولكنك تعلمت العلم وعلمته وقرأت القرآن ليقال هو قارئ فقد قيل ثم أمر فسحب على وجهه حتى ألقي في النار ورجل وسع الله عليه وأعطاه من أصناف المال فأتي به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها ؟ قال: ما تركت من سبيل تحب أن ينفق فيها إلا أنفقت فيها لك قال: كذبت ولكنك فعلت ليقال هو جواد فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه ثم ألقي في النار
Sesungguhnya orang yang pertama kali diberi keputusan pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid. Lalu ia didatangkan dihadapan Allah. Kemudian Allah perlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan-Nya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya.
Allah pun berkata, "Apa yang kamu kerjakan padanya?"
Ia berkata, "Aku berperang karena diri-Mu, hingga aku mati syahid."
Allah berkata, "Engkau telah berdusta. Sesungguhnya engkau berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan hal itu telah dikatakan (sebagai orang yang pemberani)."
Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa lalu diseret mukanya hingga ia dilemparkan ke neraka. Lalu seseorang yang belajar suatu ilmu kemudian mengajarkannya dan membaca Al-Qur'an lalu didatangkan di hadapan Allah. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan-Nya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya.
Allah berkata, "Apa yang kamu kerjakan padanya?"
Ia menjawab, "Aku mempelajari suatu ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur'an karena-Mu."
Allah berkata, "Engkau berdusta. Engkau mempelajari suatu ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an supaya dikatakan bahwa engkau adalah orang yang ahli membaca. Dan hal itu telah dikatakan (sebagai orang yang membaca Al-Qur'an)."
Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa lalu diseret mukanya hingga ia dilemparkan ke api neraka. Lalu ada seorang yang telah Allah berikan kepadanya kelapangan dan berbagai macam harta. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan-Nya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya.
Allah berkata, "Apa yang kamu kerjakan padanya?"
Ia menjawab, "Tidak ada suatu jalan yang Engkau senang untuk diberi infak kecuali aku telah mengeluarkan infak padanya demi Engkau."
Allah berkata, "Engkau telah berdusta. Engkau melakukannya agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan hal itu telah dikatakan (sebagai orang yang dermawan)."
Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, lalu diseret mukanya, kemudian dilemparkan ke dalam neraka.
Allah pun berkata, "Apa yang kamu kerjakan padanya?"
Ia berkata, "Aku berperang karena diri-Mu, hingga aku mati syahid."
Allah berkata, "Engkau telah berdusta. Sesungguhnya engkau berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan hal itu telah dikatakan (sebagai orang yang pemberani)."
Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa lalu diseret mukanya hingga ia dilemparkan ke neraka. Lalu seseorang yang belajar suatu ilmu kemudian mengajarkannya dan membaca Al-Qur'an lalu didatangkan di hadapan Allah. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan-Nya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya.
Allah berkata, "Apa yang kamu kerjakan padanya?"
Ia menjawab, "Aku mempelajari suatu ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur'an karena-Mu."
Allah berkata, "Engkau berdusta. Engkau mempelajari suatu ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an supaya dikatakan bahwa engkau adalah orang yang ahli membaca. Dan hal itu telah dikatakan (sebagai orang yang membaca Al-Qur'an)."
Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa lalu diseret mukanya hingga ia dilemparkan ke api neraka. Lalu ada seorang yang telah Allah berikan kepadanya kelapangan dan berbagai macam harta. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan-Nya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya.
Allah berkata, "Apa yang kamu kerjakan padanya?"
Ia menjawab, "Tidak ada suatu jalan yang Engkau senang untuk diberi infak kecuali aku telah mengeluarkan infak padanya demi Engkau."
Allah berkata, "Engkau telah berdusta. Engkau melakukannya agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan hal itu telah dikatakan (sebagai orang yang dermawan)."
Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, lalu diseret mukanya, kemudian dilemparkan ke dalam neraka.
[2] diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman no. 6500
[3] diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Hilyatul Auliya hal. 136
[4] dinukil dari Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily dalam Tajrid Al-Ittiba' fii Bayan Asbabi Tafadhul Al-A’mal hal. 53
[5] diriwayatkan oleh Al-Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala 6/20
[6] diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Az-Zuhd no. 262
[7] dinukil dari salah satu dars Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily dalam situs Sahab, http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=123584
[8] Tajrid Al-Ittiba' fii Bayan Asbabi Tafadhul Al-A’mal hal. 53
[9] Siyar A’lamin Nubala 11/225
[10] dinukil dari Sayyid Husain Al-'Afani dalam Ta'thirul Anfas min Haditsil Ikhlash hal. 276
[11] Ta'thirul Anfas hal. 277
[12] Ta'thirul Anfas hal. 278
[13] Ta'thirul Anfas hal. 278
[14] Ta'thirul Anfas hal. 278
[15] Ta'thirul Anfas hal. 280
[16] Ta'thirul Anfas hal. 284
[17] Ta'thirul Anfas hal. 286
[18] dinukil dari situs pribadi beliau, http://al-badr.net/muqolat/3029
[19] Siyar A’lamin Nubala 6/122
[20] dinukil dari Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf hal. 231
[8] Tajrid Al-Ittiba' fii Bayan Asbabi Tafadhul Al-A’mal hal. 53
[9] Siyar A’lamin Nubala 11/225
[10] dinukil dari Sayyid Husain Al-'Afani dalam Ta'thirul Anfas min Haditsil Ikhlash hal. 276
[11] Ta'thirul Anfas hal. 277
[12] Ta'thirul Anfas hal. 278
[13] Ta'thirul Anfas hal. 278
[14] Ta'thirul Anfas hal. 278
[15] Ta'thirul Anfas hal. 280
[16] Ta'thirul Anfas hal. 284
[17] Ta'thirul Anfas hal. 286
[18] dinukil dari situs pribadi beliau, http://al-badr.net/muqolat/3029
[19] Siyar A’lamin Nubala 6/122
[20] dinukil dari Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf hal. 231
Tidak ada komentar:
Posting Komentar