Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullah dengan sanadnya bahwa Salman Al-Farisi radhiyallahu ta'ala 'anhu berkata,
لان اموت ثم انشر ثم اموت ثم انشر ثم اموت ثم انشر احب إلي من أن ارى عورة مسلم او ان يراها مني
"Aku mati kemudian dibangkitkan kemudian mati kemudian dibangkitkan kemudian mati kemudian dibangkitkan lagi lebih aku sukai daripada melihat aurat seorang muslim atau dia yang melihat auratku."
(Az-Zuhd 1/127 no. 835 karya Al-Imam Ahmad melalui Maktabah Syamilah)
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma berkata,
من تضييع الأمانة النظر في الحجرات و الدور
"Termasuk hilangnya amanah adalah dengan melihat isi kamar-kamar dan rumah-rumah (orang lain)."
(Al-Wara' hal. 71 karya Ibnu Abid Dunya)
Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu pernah berkata,
إذا مرت بك مرأة فغمض عينيك حتى تجاوزك
"Apabila ada wanita yang lewat di depanmu, maka tundukkan pandanganmu hingga ia berlalu."
(Al-Wara' hal. 72 karya Ibnu Abid Dunya)
Diriwayatkan bahwa Al-'Ala bin Ziyad rahimahullah berkata,
لا تتبع بصرك حسن ردف المرأة فإن النظر يجعل الشهوة في القلب
"Jangan pandangi indahnya punggung wanita (saat ia berlalu), karena sungguh pandangan itu menyebabkan syahwat dalam hati."
(Al-Wara' hal. 68 karya Ibnu Abid Dunya melalui Maktabah Syamilah)
Diriwayatkan dari Waki' bin Al-Jarrah rahimahullah, beliau berkata,
خرجنا مع سفيان الثوري في يوم عيد فقال إن أول ما نبدأ به في يومنا غض أبصارنا
"Kami keluar bersama Sufyan Ats-Tsauri pada hari 'Id dan dia berkata, 'Hal pertama yang akan kita lakukan di hari ini adalah menjaga pandangan kita.'"
(Al-Wara' hal. 63 karya Ibnu Abid Dunya melalui Maktabah Syamilah)
Diriwayatkan dari Abu Hakim,
خرج حسان بن أبي سنان يوم العيد، فلما رجع، قالت له امرأته: كم من امرأة حسنة قد نظرت اليوم؟! فلما أكثرت، قال: والله ويحك ما نظرت إلا في إبهامي منذ خرجت من عندك حتى رجعت إليك
Hassan bin Abi Sinan keluar pada hari 'Id. Setelah kembali ke rumah, istrinya bertanya kepadanya, "Berapa banyak wanita cantik yang kamu lihat hari ini?!"
Maka ia menjawab, "Demi Allah, aku tidak melihat sesuatu melainkan jempolku ini, sejak keluar dari tempatmu sampai kembali kepadamu."
(Dzammul Hawa hal. 88 karya Ibnul Jauzi)
Bila di dunia nyata saja begitu besarnya fitnah, bagaimana lagi dengan dunia maya yang para saudari-saudari kita dengan bangganya mengunggah foto-fotonya (baik yang berstempel akhwat maupun yang enggan distempel) yang kita bisa bebas secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi melihat foto meraka? Nas'alullah as-salamah wal 'afiyah.
كن سلفيا على الجادة
Kajian Salafi Sekitar UNS | www.Kajian-UNS.Com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar